![]() |
| Gambar: Gudeg Sumber: https://goo.gl/LRVhpp |
Ketika
kita mengunjungi Jogjakarta tidak lengkap rasanya bila belum mencicipi
makanan-makanannya. Selain harganya yang murah meriah, banyak sekali makanan
yang rasanya enak. Mulai dari makanan khas pinggir jalan seperti angkringan,
nasi pincuk, bakpia patok, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun yang
paling popular dibanding semua makanan khas Jogjakarta yang lain adalah gudeg.
Gudeg adalah makanan khas Jogjakarta yang ternyata dari nangka yang diolah dan
disajikan dengan nasi serta lauk lainnya. Karena menjadi makanan khas dari
daerah Jogjakarta tak jarang gudeg dijadikan buah tangan bagi sanak saudara
setelah berkunjung dari Jogjakarta.
Gudeg
pertama kali muncul pada tahun 1819 yang merupakan makanan yang merakyat di
daerah Jogjakarta. Pada jaman penjajahan tersebut komoditas pertanian menjadi
andalan pemasukan negara seperti teh, kopi dan jati. Sementara nangka tidak
menjadi incaran para penjajahan karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi
yang tinggi. Padahal jumlah produksi nangka pada saat itu melimpah dan hampir
setiap warga memiliki pohon nangka di halaman rumah. Oleh karena itu masyarakat
memanfaatkan nangka untuk diolah menjadi makanan yang hingga sekarang dikenal
dengan nama gudeg. Nama gudeg diperoleh dari cara pengolahan makanannya, yaitu
diaduk dalam bahasa jawa diudeg. Pengolahannya di aduk berulang-ulang diatas
kayu besar agar tidak gosong atau anggudeg.
Ada
beberapa jenis gudeg yang dibuat yaitu, Gudeg kering, Gudeg basah, Gudeg Solo,
dan Gudeg Manggar. Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental,
lebih kental santan pada masakan padang. Gudeg basah, yaitu gudeg yang
disajikan dengan areh encer. Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna
putih. Gudeg Manggar, yaitu gudeg yang menggunakan putik bunga kelapa.
Referensi:
Abadi, D. & Budhy,
A., 2015. Daerah Istimewa Gudeg, Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

0 komentar:
Posting Komentar